Cara Rasulullah SAW Ucapkan Selamat Idul Fitri, Bisa Dipakai untuk Ucapan Lebaran 2019

oleh

Uri.co.id – Begini cara Rasulullah SAW ucapkan selamat Idul Fitri yang bisa dipakai ketika Lebaran 2019 yang bakal datang ini.

Beberapa hari lagi umat muslim akan merayakan idul fitri 1440 Hijriyah dan diperkirakan akan jatuh pada 5 Juni 2019 mendatang.

Selain kuliner khasnya, ada juga ucapan yang begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia di idul fitri.

Setiap orang muslim di Indonesia akan beramai-ramai mengucapkan ‘Minal Aidin Wal Faizin’ yang kemudian disambungkan dengan kalimat ‘Mohon maaf lahir dan batin’.

Tapi apakah Minal Aidin Wal Faizin berarti mohon maaf lahir dan batin?

Dikutip dari BangkaPos (tayang 3 Juli 2016) yang melansir laman pintarin dan Kabar Makkah, asal muasal ucapan Mohon maaf lahir batin tersebut belum diketahui darimana dan siapa yang memulainya.

Namun sebenarnya secara harfiah Minal Aidin Wal Faizin berarti ‘Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali dan termasuk orang yang beruntung’.

Di Arab sendiri, ucapan ‘Minal Aidin Wal faizin’ tidak pernah didengar lo.

Bahkan tidak ada hadits atau ayat yang menjelaskan tentang kesunnahan melafazkan ucapan ‘Minal Aidin Wal Faizin’.

Sebaliknya, Rasulullah dan para sahabatnya ketika Lebaran senantiasa mengucapkan kalimat ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minkum’.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata, “Aku bertemu Watsilah bin Asqa’ pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, ‘Aku pernah bertemu Rasulullah Muhammad SAW pada hari raya, lantas aku katakan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’.

Beliau menjawab, ‘Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Riwayat ini memberikan benang merah, ucapan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru’) dan hukum mengucapkannya sunnah.

Oleh karenanya, ucapan Lebaran Minal Aidin Wal Faizin saja sebenarnya kurang tepat jika diungkapkan untuk meminta maaf, karena arti Minal Aidin Wal Faizin bukan permintaan maaf.

Sebaiknya jika ingin meminta maaf cukup dengan mengucapkan “mohon maaf lahir batin”, lebih afdhol lagi jika diawali dengan berdoa seperti riwayat di atas.

“Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum, taqabbal ya karim, ja’alanallahu waiyyakum minal aidin wal faizin, Aamiin.”

Baru kemudian mohon maaf lahir batin.

Alasan Umat Muslim Bermaafan di Idul Fitri

Satu di antara momen yang begitu dinantikan umat muslim adalah shalat ied di masjid atau di lapangan.

Umat muslim berbondong-bondong mendatangi masjid atau lapangan demi melaksanakan shalat ied.

Setelahnya, umat muslim biasanya akan berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan kenalan untuk saling bermaafan.

Lalu kenapa sih bermaafan harus dilakukan pada saat Idul Fitri?

Melansir dari ceramah Ustadz Abdul Somad lewat saluran Youtube Amih Hindarsih yang tayang 11 Juni 2018, ia menjelaskan.

” Tak ada dalil minta maaf saat idul fitri, tapi saat itu hati-hati umat muslim sedang menunduk. Habis dengar tausyiah, saat itulah kita masuk. Nanti kalau beku bahaya,” tutup Ustadz Abdul Somad.

Ia sebelumnya berceramah tentang sikap pengkhutbah dan jamaah setelah shalat ied.

Ustadz Abdul Somad juga menganjurkan pada para pengkhutib agar bersuara lantang serta menyampaikan khutbah dengan semangat.

Awalnya ia menyoroti tentang jamaah yang datang ke lokasi shalat ied.

” Itulah kesempatan emas dia (jamaah shalat ied) mendengarkan syiar,” ungkap Ustadz Abdul Somad.

Dilanjutkan UAS, orang yang selama ini bahkan jarang ke masjid, idul fitri dia mungkin saja datang ke mesjid. orang yang sibuk bekerja datang saat shalat ied.

” Tujuan shalat ied itu untuk mendengarkan khutbah, kalau cuma shalat dua rakaat pun bisa,” terang UAS.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Somad juga menerangkan tata cara pergi ke masjid atau lapangan yang dijadikan lokasi shalat ied.

” Pulang perginya pun ada caranya, datang dari jalan A, pulangnya lewat jalan B. Supaya apa?

Supaya pas di jalan ketemu teman lama, tetangga, tetangga jauh, kenalan istri, kenalan suami, mertua, siapapun… di sapa, minta maaf, lahir batin,” ujar UAS.

” Itu kan do’a, minal aidin semoga kita kembali kepada kefitrahan, wal faidzin, dan termasuk orang-orang yang menang melawan hawa nafsu,” lanjutnya.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang sedang berhalangan (menstruasi atau masa nifas)?

“Wanita yang sedang berhalangan, hendaklah tetap dibawa ke lokasi shalat ied,” katanya membacakan sebuah hadits.

” Kami diperintahkan mengeluarkan perempuan yang sedang berhalangan keluar (ke lokasi shalat ied) tetapi tidak diminta sholat,” ucap UAS membacakan hadist tentang anjuran tersebut.

” Untuk apa? Mendengar khutbah,” lanjut Ustadz Abdul Samad..

Berikut video ceramahnya:

Uri.co.id/noor masrida ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!