Bayar Zakat Fitrah Pakai Uang Itu Bid’ah? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad, Pas Idul Fitri 1440 H

oleh

Uri.co.id – Benarkah bayar zakat fitrah pakai itu bid’ah? Ini penjelasan Ustadz Abdul Somad, pas jelang Idul Fitri 1440 H atau Idul Fitri 2019.

Ya, Zakat fitrah merupakan amalan yang diwajibkan kepada kaum muslimin yang sudah mampu untuk menunaikannya. Dibayarkan jelang lebaran, termasuk Idul Fitri 1440 H/2019.

Nah, bagaimana seluk-beluk zakat fitrah itu. Baiknya, simak penjelasan Ustadz Abdul Somad.

Zakat fitrah adalah zakat yang harus ditunaikan bagi seorang muzakki yang telah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Zakat fitrah adalah zakat wajib yang harus dikeluarkan sekali setahun yaitu saat bulan ramadan menjelang idul fitri.

Zakat yang bersifat wajib tersebut harus dikeluarkan sebelum salat idul fitri dilangsungkan.

Hal tersebut yang menjadi pembeda zakat fitrah dengan zakat lainnya.

Tujuan mengeluarkan zakat fitrah adalah untuk menyucikan harta.

Karena dalam setiap harta manusia ada sebagian hak orang lain.

Bagaimana perhitungan Zakat Fitrah, menurut Ustadz Abdul Somad berdasarkan sejarah nabi yang kena Zakat fitrah itu adalah 85 Gram.

Harta paling tinggi menurut Ustaz Abdul somad, adalah Zakat, ada batas nisabnya, batasnya 85 Gram.

Darimana angka 85 gram didapat dari kata Nabi ada 20 keping dinar sudah kena zakat.

“Satu Dinar sama dengan 4,25 Gram, dikalikan 20 jadi 85 gram,” jelas Ustaz Abdul Somad.

Kalau Dirupiahkan lanjut Ustadz maka satu gram emas dikalikan rupiah sekitar Rp 500 ribu kemudian dikalikan 85 maka jadi Rp 42.500 Juta.

” Jadi bapak ibu yang punya tabungan di Bank Rp 42.500 Juta sudah kena Zakat. Misal ada 100 orang ada tabungan Rp 100 juta, maka satu orang kenanya Rp 2,5 juta semunaya bias menjadi Rp 2,5 Miliar. sebab itu potensi zakat itu luar biasa,” ungkap Abdul Somad.

Sementara itu di akun Nurul Yakin Serba-serbi Zakat Fitrah Ustaz Abdul Somad memnajwab pertanyaan sejumlah jamaah tentang zakat Fitrah.

Berikut sejumlah pertanyaannya ;

Apakah boleh bayar Zakat pakai Uang?

Menurut Abdul Somad membayar zakat mengunakan uang itu sah-sah saja, karena zaman dulu pakai sistem barter hal itu sesuai dengan Mazhab Hanafi.

Namun untuk Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali bayar zakat mengunakan makanan pokok.

Terus bagaimana pak Ustadz kalau pakai uang itu Bid’ah?

“Kalau ada orang bilang bidah pakai duit, pakai beras juga Bidah, karena Nabi tidak pakai beras. Nabi kalau zakat pakai empat. 1 Pertama Kurma, kedua gandum, ketiga Kismis, keempat susu kambing dijemur kering (mentega),” ucap Ustadz Abdul Somad. Jadi karena Beras itu makanan pokok, jadi apa yang menjadi makanan pokok boleh. pakai duit juga boleh,” jelasnya.

Kalau ditanya Ustadz bayar zakat pakai apa?

” Saya dari dulu pakai beras 3 Kg, tapi saya tidak menyalahkan ikut ketentuan kemenag agama 2,5 Kg, karena itu juga ijtihad ulama juga.Tapi ada yang berat kita pakai berat, dalam beribadah begitu ada doa panjang kita pakai yang panjang, ada yang lama ikut yang lama. Kalau pakai berat kita pakai yang berat, karena kelebihan itu bernilai sodaqoh. Saya pribadi bayar 3 Kg seperti itu, kalau ada keponakan bayarkan hitung sodaqoh tidak akan rugi 1 Kg beras diganti Allah dijauhkan musibah karena kelebihan itu bernilai sodaqoh. makanya datuk nenek kita banyak-banyak sodaqoh,” papar Abdul Somad.

Dikutip dari nu.or.id, Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah penunaian zakat fitrah dengan uang.

Pertama, pendapat yang membolehkan.

Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. (As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83).

Dalil mereka antara lain firman Allah SWT ,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS at-Taubah [9] : 103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang).

Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. (Rabi’ Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Tha’am, hal. 4).

Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW,”Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini (Idul Fitri).” (HR Daruquthni dan Baihaqi). Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang. (Abdullah Al-Ghafili, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat al-Fithr, hal. 3).

Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad).

Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. (Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295)

Karena ada dua pendapat yang berbeda, maka kita harus bijak dalam menyikapinya.

Ulama sekaliber Imam Syafi’i, mujtahid yang sangat andal saja berkomentar tentang pendapatnya dengan mengatakan, ”Bisa jadi pendapatku benar, tapi bukan tak mungkin di dalamnya mengandung kekeliruan. Bisa jadi pendapat orang lain salah, tapi bukan tak mungkin di dalamnya juga mengandung kebenaran.”

Dalam masalah ini, sebagai orang awam (kebanyakan), kita boleh bertaqlid (mengikuti salah satu mazhab yang menjadi panutan dan diterima oleh umat). Allah tidak membebani kita di luar batas kemampuan yang kita miliki. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al-Baqarah [2]: 286).

Uri.co.id Bolehkah Bayar Zakat Fitrah dengan Uang? Ini Kata Ustaz Abdul Somad serta Pendapat Sejumlah Ulama ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!